Kamis, 10 Agustus 2017

Nyanyian Hujan

Gerimis telah berhenti; pendarnya pada jendela
adalah bisikan terakhir, awal musim
Memandang ke depan, jejak tapak jarimu di kaca
catatan percakapan terakhir ruangan ini.
Kini sunyi dimana mana, tak ada derit pintu, 
suara air, helaan tirai, pun gemerincing gelas.

Semalam menembus pekat kabut temaram, 
angin menawanmu, menyekatmu dalam ruang tak bermusim. 
Tak ada jembatan ataupun mimpi untukku ke sana.

Ada tersisa padaku tirai menggelantung; 
sulaman serpihan dirimu rangkuman jiwamu
jejak cintamu dari ruang ke ruang, 
juga aroma pergulatan cempaka di pembaringan
dan gladiol kering di sudut debu.


Kini di sini hamparan fana, 
menembus pekat kabut temaram pandanganku lurus padamu
samar arti catatan percakapan kaca.
Tinggal bunga, kupu kupu, cahaya remang,
bisikan angin, guratan guratan lugu dan derai cintamu di sudut sunyi...

-Musim Hujan, Agustus 2016-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar