Nyanyian Hujan
Memandang
ke depan, jejak tapak jarimu di kaca
catatan percakapan terakhir ruangan ini.
Kini sunyi dimana mana, tak ada derit
pintu,
suara air, helaan tirai, pun gemerincing gelas.
Semalam menembus pekat kabut temaram,
angin menawanmu, menyekatmu dalam ruang tak bermusim.
Tak ada jembatan ataupun
mimpi untukku ke sana.
Ada tersisa padaku tirai menggelantung;
sulaman serpihan dirimu rangkuman jiwamu
jejak cintamu dari ruang ke ruang,
juga
aroma pergulatan cempaka di pembaringan
dan gladiol kering di sudut debu.
Kini di sini hamparan fana,
menembus
pekat kabut temaram pandanganku lurus padamu
samar arti catatan percakapan
kaca.
Tinggal bunga, kupu kupu, cahaya remang,
bisikan angin, guratan guratan lugu dan
derai cintamu di sudut sunyi...
-Musim Hujan, Agustus 2016-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar