Minggu, 20 Agustus 2017

Deus de Amor: Kampung Hujan
                             
Kudengar suaramu tertekuk luruh
karena bulan tak lagi bertandang
antara datang dan pergi
waktu habis menggagahi semesta

Di pedalaman, kampung segala jiwa
Kau masih saja memungut kemarau
padahal bunga telah tumbuh
membentang, menyusur gunung
menjuntai di tepi kelompak mata
dan pinggiran pinggiran hati
ranjang padang pengembaraan

di ujung, masih sedepa lagi laut surut
biarlah berjejak segala kaki
menerawang kelam mengejar
karena puisi tak selalu kata
terang tak selalu matahari
gema tak selalu suara
jalan tak selalu searah

mari simak catatan catatan langit
biar angin terkejut dan heran
karena cinta niscaya tumbuh
di gersang dan di gelap jiwa sekalipun.

-manado 2017-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar