Minggu, 20 Agustus 2017

“AMAZING GRACE"

Tangga ini terjuntai dari langit, jika engkau ingin melihat jalan pulangmu; engkau harus menaikinya dengan ketulusan anak.
Tidak penting seberapa puitis kasar tajam dan tandasnya kata-katamu, sebab kata-kata kerap tidak menggambarkan hati; kata-kata bersayap - sukar bagimu menggenggam dan mengendalikannya.
Hatimu melebihi kata-kata, karenanya lebih baik engkau kehilangan kata daripada kehilangan hati.

Tidak penting seberapa legam tanganmu, karena legam tidak selalu hitam. Lenganmu harus tangguh, tapi kau tak berkuasa atas lenganmu dan tanganmu tak dapat menolongmu.

Kepada siapa engkau percaya itu penting, bahkan dalam keteguhan hatimu yang paling kuat kadang hati dapat menipu.
jika terjadi, maka itu tak mengubah siapa yang kau percaya. Tetaplah percaya sekalipun engkau berada dalam jurang keraguan;
pun ketika engkau mengetahui dirimu seperti uap di hadapanNya.

Namun ketika engkau mengetahui jati dirimu, maka itu bukan karena kuatnya kata-katamu; tangguhnya lenganmu; pun bukan karena kokohnya hatimu.
kata dan hatimu tak dapat mengendalikan atau menguasaiNya.
Tanganmu tak dapat menjangkauNya; Kedalaman ketakjuban kasih karuniaNyalah yang memungkinkan.

---Tomohon, Agustus 2013.--
Deus de Amor: Kampung Hujan
                             
Kudengar suaramu tertekuk luruh
karena bulan tak lagi bertandang
antara datang dan pergi
waktu habis menggagahi semesta

Di pedalaman, kampung segala jiwa
Kau masih saja memungut kemarau
padahal bunga telah tumbuh
membentang, menyusur gunung
menjuntai di tepi kelompak mata
dan pinggiran pinggiran hati
ranjang padang pengembaraan

di ujung, masih sedepa lagi laut surut
biarlah berjejak segala kaki
menerawang kelam mengejar
karena puisi tak selalu kata
terang tak selalu matahari
gema tak selalu suara
jalan tak selalu searah

mari simak catatan catatan langit
biar angin terkejut dan heran
karena cinta niscaya tumbuh
di gersang dan di gelap jiwa sekalipun.

-manado 2017-

Kamis, 10 Agustus 2017

Nyanyian Hujan

Gerimis telah berhenti; pendarnya pada jendela
adalah bisikan terakhir, awal musim
Memandang ke depan, jejak tapak jarimu di kaca
catatan percakapan terakhir ruangan ini.
Kini sunyi dimana mana, tak ada derit pintu, 
suara air, helaan tirai, pun gemerincing gelas.

Semalam menembus pekat kabut temaram, 
angin menawanmu, menyekatmu dalam ruang tak bermusim. 
Tak ada jembatan ataupun mimpi untukku ke sana.

Ada tersisa padaku tirai menggelantung; 
sulaman serpihan dirimu rangkuman jiwamu
jejak cintamu dari ruang ke ruang, 
juga aroma pergulatan cempaka di pembaringan
dan gladiol kering di sudut debu.


Kini di sini hamparan fana, 
menembus pekat kabut temaram pandanganku lurus padamu
samar arti catatan percakapan kaca.
Tinggal bunga, kupu kupu, cahaya remang,
bisikan angin, guratan guratan lugu dan derai cintamu di sudut sunyi...

-Musim Hujan, Agustus 2016-