“AMAZING GRACE"
Tangga ini terjuntai dari langit, jika engkau ingin melihat jalan pulangmu; engkau harus menaikinya dengan ketulusan anak.
Tidak penting seberapa puitis kasar tajam dan tandasnya kata-katamu, sebab kata-kata kerap tidak menggambarkan hati; kata-kata bersayap - sukar bagimu menggenggam dan mengendalikannya.
Hatimu melebihi kata-kata, karenanya lebih baik engkau kehilangan kata daripada kehilangan hati.
Tidak penting seberapa legam tanganmu, karena legam tidak selalu hitam. Lenganmu harus tangguh, tapi kau tak berkuasa atas lenganmu dan tanganmu tak dapat menolongmu.
Kepada siapa engkau percaya itu penting, bahkan dalam keteguhan hatimu yang paling kuat kadang hati dapat menipu.
jika terjadi, maka itu tak mengubah siapa yang kau percaya. Tetaplah percaya sekalipun engkau berada dalam jurang keraguan;
pun ketika engkau mengetahui dirimu seperti uap di hadapanNya.
Namun ketika engkau mengetahui jati dirimu, maka itu bukan karena kuatnya kata-katamu; tangguhnya lenganmu; pun bukan karena kokohnya hatimu.
kata dan hatimu tak dapat mengendalikan atau menguasaiNya.
Tanganmu tak dapat menjangkauNya; Kedalaman ketakjuban kasih karuniaNyalah yang memungkinkan.
---Tomohon, Agustus 2013.--
Minggu, 20 Agustus 2017
Deus de Amor: Kampung Hujan
karena bulan tak lagi bertandang
antara datang dan pergi
waktu habis menggagahi semesta
Di pedalaman, kampung segala jiwa
Kau masih saja memungut kemarau
padahal bunga telah tumbuh
membentang, menyusur gunung
menjuntai di tepi kelompak mata
dan pinggiran pinggiran hati
ranjang padang pengembaraan
di ujung, masih sedepa lagi laut surut
biarlah berjejak segala kaki
menerawang kelam mengejar
karena puisi tak selalu kata
terang tak selalu matahari
gema tak selalu suara
jalan tak selalu searah
mari simak catatan catatan langit
biar angin terkejut dan heran
karena cinta niscaya tumbuh
di gersang dan di gelap jiwa sekalipun.
Kamis, 10 Agustus 2017
Nyanyian Hujan
Memandang
ke depan, jejak tapak jarimu di kaca
catatan percakapan terakhir ruangan ini.
Kini sunyi dimana mana, tak ada derit
pintu,
suara air, helaan tirai, pun gemerincing gelas.
Semalam menembus pekat kabut temaram,
angin menawanmu, menyekatmu dalam ruang tak bermusim.
Tak ada jembatan ataupun
mimpi untukku ke sana.
Ada tersisa padaku tirai menggelantung;
sulaman serpihan dirimu rangkuman jiwamu
jejak cintamu dari ruang ke ruang,
juga
aroma pergulatan cempaka di pembaringan
dan gladiol kering di sudut debu.
Kini di sini hamparan fana,
menembus
pekat kabut temaram pandanganku lurus padamu
samar arti catatan percakapan
kaca.
Tinggal bunga, kupu kupu, cahaya remang,
bisikan angin, guratan guratan lugu dan
derai cintamu di sudut sunyi...
-Musim Hujan, Agustus 2016-
Langganan:
Komentar (Atom)

