Rahasia Rimba:
(Kepada Umbu)
Kukenang engkau yang lahir dari rahim sunyi
dan kau yang dikandung sabana disusui rimba kata kata.
Ada padamu gairah Sumba yang menjalar
dan kemurnian dengus kuda kudanya.
Padang padang liar; mimpi mimpi liar; batu batu liar
Tempat kau memacu kuda putihmu
dengan tegukan tuak menentang matahari.
Berapa kota yang kau singgahi di belantara sepimu?
Berapa kirbat air yang kau reguk dari sumur sunyimu?
Berapa orang asing yang kau tandu di rindu dendammu?
Berapa belati yang kau tancapkan di rimba liarmu?
Jejak jejak kuda putihmu mengeras jadi kumpulan sajak
Kemah kemah persinggahanmu jadi rumah kata kata
Pertarungan pertarunganmu jadi cerita rahasia rimba.
Kukenang engkau yang lahir dari rahim sunyi
dan kau yang dikandung sabana disusui rimba kata kata.
Ada padamu gairah Sumba yang menjalar
dan kemurnian dengus kuda kudanya.
-Manado, 2016-
Jumat, 04 November 2016
Rabu, 02 November 2016
Taman Gili: Parodi Kamboja dan Rumput
kamboja
dan rumput tepian kolam ini
bertunas,
berbunga dalam racikan
tukang kebun yang sama
sepasang
orang asing hitam putih bertandang
di sudut
taman, menyematkan kamboja
dalam
sumringah malam pertama.
kamboja
dan rumput tepian kolam ini
purnama
membelai dalam elusan
yang sama
gadis muda
selendang putih bertandang
di sudut
taman, menyematkan kamboja
dalam
sumringah sembahyang pertama.
kamboja
dan rumput tepian kolam ini
Tukang
kebun yang sama, purnama yang sama
Kamboja
layu, rumput kisut
Kamboja
dan rumput
di meja
pengadilan taman ini
Hakim yang
sama, hukum yang sama
malaikat
hitam putih betandang
menyemat
sula, menyemat mahkota...
Jembatan Kali Unda.
Jembatan ini, telah berulang dilalui
Tetapi tetap saja, kau tidak bisa menyeberanginya
kemolekan liuk gelombang sungai di antara batu gunung
Tetapi tetap saja, kau tidak bisa menyeberanginya
kemolekan liuk gelombang sungai di antara batu gunung
cengkerama gadis gadis muda di bawah pancuran
hentakkan tangan tangan legam penambang
kekuatan aroma tuak dari pondok pondok
menawan penyeberanganmu.
hentakkan tangan tangan legam penambang
kekuatan aroma tuak dari pondok pondok
menawan penyeberanganmu.
Menemui yang illahi di ujung jembatanAdalah hasrat keniscayaan
Seperti mengubah arah batang sungai
dan membiarkan batu bergulir ke hulu kekekalan
penemuan jati diri kepada yang azali
dari debu kembali debu.
Jembatan ini, telah berulang dilalui
Tetapi tetap saja kau tidak memahami jalan jalannya
Aroma ketulusan sejaji pagi petang di ujung jembatan
dan percikan air kehidupan di setiapnya
menjadi lantun langkahmu menembus kekosongan.
Tak ada yang gamang dari setiap batu di sungai
Tak ada yang tak tercatat dari setiap kerikil yang bergulir
Semua dalam arus yang sama.
Tetapi tetap saja kau tidak memahami jalan jalannya
Aroma ketulusan sejaji pagi petang di ujung jembatan
dan percikan air kehidupan di setiapnya
menjadi lantun langkahmu menembus kekosongan.
Tak ada yang gamang dari setiap batu di sungai
Tak ada yang tak tercatat dari setiap kerikil yang bergulir
Semua dalam arus yang sama.
Jembatan ini, telah berulang dilalui
Tetapi tetap saja, kau tidak mengetahui ujungnya.
Tetapi tetap saja, kau tidak mengetahui ujungnya.
Selasa, 01 November 2016
Taman Gili
Malam
ini tidak ada derau angin
dingin
meruang, bulan jadi lain
rindu
yang mengental
Sendiri
di taman Gili…
menyusur
relung relung kolam
tangkai
tangkai mawar
langit
langit, ruang penghakiman
tempat
percakapan terhenti
akhir
cinta yang tumbuh.
Sekejap
bayangmu meriak
antara
teratai dan gemercik sunyi
Kejarku,
biarkan aku memahat
pada
tiap sudut genangmu
dan
jejak cetak wajahmu
agar
aroma kamboja
meruak
di ruang kekalmu
merangkai
cinta kefanaanku
pada
esok yang mungkin
tidak
datang...
Sungai Unda
:(Kepada Isworo)
Sungai
itu memberiku seorang perempuan
kau
bilang lemah, ia lebih kuat darimu
Sesehari
air matanya tumpah
menggarami
muara, menderasi anak anak sungai
Dua
tangannya menangkup air
mengisinya
dalam saku celanaku
Katanya;
"pergi dan cintai...."
Hari
itu, ia memungut batu batu hidup
dari
jiwa yang lelah, yang tak pernah diberi padanya
memolesnya
dengan cinta
merangkainya
jadi tiang tiang rumah
menegakkannya
hingga ke jantung jiwaku
Gelap
pagi tepi aliran
bersama
gemercik matahari
terdengar
lirih kata-katanya
dalam gemeretak batu batu bergulir
kepada
Tuhannya ia menumpahkan pergulatannya
ucapan
ucapan berkat, nyanyi nyanyi sunyinya
dari
yakin cintaNya yang tak pernah lekang
bumi
yang selalu berubah
sungai
yang terus mengalirkan
cerita
rahasia, cinta rahasia,
nyanyi
rahasia...
Deus de Amor: Percakapan
Pantai
(Buat: Anak-anakku)
(Buat: Anak-anakku)
Jika saja kau memahami buih
yang menyentuh kakimu
kau akan tahu bahasa pasir
lembut menangkup gerai ombak
tegas membatas garis samudera.
yang menyentuh kakimu
kau akan tahu bahasa pasir
lembut menangkup gerai ombak
tegas membatas garis samudera.
Jika saja kau memahami ombak
yang menggulung hatimu
kau akan tahu bahasa karang
kekar menangkal matahari
tajam menahan malam.
yang menggulung hatimu
kau akan tahu bahasa karang
kekar menangkal matahari
tajam menahan malam.
Jika saja kau memahami angin
yang menyemat rambutmu
kau akan tahu bahasa laut
luas menampung curahan pulau
memberi tak pernah habis.
yang menyemat rambutmu
kau akan tahu bahasa laut
luas menampung curahan pulau
memberi tak pernah habis.
Jika saja kau memahami camar
yang menudungi ragamu
kau akan tahu bahasa nyiur
tegak harmoni di keragaman pantai
berjajar dalam kesejajaran rimba.
yang menudungi ragamu
kau akan tahu bahasa nyiur
tegak harmoni di keragaman pantai
berjajar dalam kesejajaran rimba.
Jika saja kau memahami ikan
yang meretas jiwamu
kau akan tahu bahasa semesta
keagungan cinta muasal muara rindu.
yang meretas jiwamu
kau akan tahu bahasa semesta
keagungan cinta muasal muara rindu.
---Kuta, Agustus 2016---
Langganan:
Komentar (Atom)




