Jumat, 04 November 2016

Rahasia Rimba:
          (Kepada Umbu)


Kukenang engkau yang lahir dari rahim sunyi
dan kau yang dikandung sabana disusui rimba kata kata.
Ada padamu gairah Sumba yang menjalar
dan kemurnian dengus kuda kudanya.

Padang padang liar; mimpi mimpi liar; batu batu liar
Tempat kau memacu kuda putihmu 
dengan tegukan tuak menentang matahari.

Berapa kota yang kau singgahi di belantara sepimu?
Berapa kirbat air yang kau reguk dari sumur sunyimu?
Berapa orang asing yang kau tandu di rindu dendammu?
Berapa belati yang kau tancapkan di rimba liarmu?

Jejak jejak kuda putihmu mengeras jadi kumpulan sajak
Kemah kemah persinggahanmu jadi rumah kata kata
Pertarungan pertarunganmu jadi cerita rahasia rimba.

Kukenang engkau yang lahir dari rahim sunyi
dan kau yang dikandung sabana disusui rimba kata kata.
Ada padamu gairah Sumba yang menjalar
dan kemurnian dengus kuda kudanya.

-Manado, 2016-

Rabu, 02 November 2016

Taman Gili: Parodi Kamboja dan Rumput

kamboja dan rumput tepian kolam ini
bertunas, berbunga dalam racikan tukang kebun yang sama
sepasang orang asing hitam putih bertandang
di sudut taman, menyematkan kamboja
dalam sumringah malam pertama.

kamboja dan rumput tepian kolam ini
purnama membelai dalam elusan yang sama
gadis muda selendang putih bertandang
di sudut taman, menyematkan kamboja
dalam sumringah sembahyang pertama.

kamboja dan rumput tepian kolam ini
Tukang kebun yang sama, purnama yang sama
Kamboja layu, rumput kisut

Kamboja dan rumput
di meja pengadilan taman ini
Hakim yang sama, hukum yang sama
malaikat hitam putih betandang

menyemat sula, menyemat mahkota...
Jembatan Kali Unda.

Jembatan ini, telah berulang dilalui
Tetapi tetap saja, kau tidak bisa menyeberanginya
kemolekan liuk gelombang sungai 
di antara batu gunung
cengkerama gadis gadis muda di bawah pancuran
hentakkan tangan tangan legam penambang
kekuatan aroma tuak dari pondok pondok
menawan penyeberanganmu.

Menemui yang illahi di ujung jembatan
Adalah hasrat keniscayaan
Seperti mengubah arah batang sungai
dan membiarkan batu bergulir ke hulu kekekalan
penemuan jati diri kepada yang azali
dari debu kembali debu.

Jembatan ini, telah berulang dilalui
Tetapi tetap saja kau tidak memahami jalan jalannya
Aroma ketulusan sejaji pagi petang di ujung jembatan
dan percikan air kehidupan di setiapnya
menjadi lantun langkahmu menembus kekosongan.
Tak ada yang gamang dari setiap batu di sungai
Tak ada yang tak tercatat dari setiap kerikil yang bergulir
Semua dalam arus yang sama.


Jembatan ini, telah berulang dilalui
Tetapi tetap saja, kau tidak mengetahui ujungnya.

Selasa, 01 November 2016

Taman Gili

Malam ini tidak ada derau angin
kerlap lampu hilang warna
dingin meruang, bulan jadi lain
rindu yang mengental

Sendiri di taman Gili
menyusur relung relung kolam
tangkai tangkai mawar
langit langit, ruang penghakiman
tempat percakapan terhenti
akhir cinta yang tumbuh.

Sekejap bayangmu meriak
antara teratai dan gemercik sunyi
Kejarku, biarkan aku memahat
pada tiap sudut genangmu
dan jejak cetak wajahmu
agar aroma kamboja
meruak di ruang kekalmu
merangkai cinta kefanaanku
pada esok yang mungkin
tidak datang...
Sungai Unda
                    :(Kepada Isworo)

Sungai itu memberiku seorang perempuan

kau bilang lemah, ia lebih kuat darimu
Sesehari air matanya tumpah
menggarami muara, menderasi anak anak sungai
Dua tangannya menangkup air
mengisinya dalam saku celanaku
Katanya; "pergi dan cintai...."

Hari itu, ia memungut batu batu hidup
dari jiwa yang lelah, yang tak pernah diberi padanya
memolesnya dengan cinta
merangkainya jadi tiang tiang rumah
menegakkannya hingga ke jantung jiwaku

Gelap pagi tepi aliran
bersama gemercik matahari
terdengar lirih kata-katanya
dalam gemeretak batu batu bergulir
kepada Tuhannya ia menumpahkan pergulatannya
ucapan ucapan berkat, nyanyi nyanyi sunyinya
dari yakin cintaNya yang tak pernah lekang
bumi yang selalu berubah
sungai yang terus mengalirkan
cerita rahasia,  cinta rahasia,
nyanyi rahasia...
Deus de Amor: Percakapan Pantai
(Buat: Anak-anakku)

Jika saja kau memahami buih
yang menyentuh kakimu
kau akan tahu bahasa pasir
lembut menangkup ge
rai ombak
tegas membatas garis samudera.

Jika saja kau memahami ombak
yang menggulung hatimu
kau akan tahu bahasa karang
kekar menangkal matahari
tajam menahan malam.

Jika saja kau memahami angin
yang menyemat rambutmu
kau akan tahu bahasa laut
luas menampung curahan pulau
memberi tak pernah habis.

Jika saja kau memahami camar
yang menudungi ragamu
kau akan tahu bahasa nyiur
tegak harmoni di keragaman pantai
berjajar dalam kesejajaran rimba.


Jika saja kau memahami ikan
yang meretas jiwamu
kau akan tahu bahasa semesta
keagungan cinta muasal muara rindu.

---Kuta, Agustus 2016---